Rabu, 08 Juli 2009

Sepincuk Nasi Bungkus

Ketika itu akhir minggu, tepatnya hari jumat, aku berlibur ala anak kuliahan, bukan ke taman hiburan, pusat perbelanjaan terlebih kebun binatang. Liburan yang ini terasa sangat menyenangkan, yaitu PULANG KAMPUNG, obat mujarab penawar homesick yang sering menyerang dan melepas penat hiruk pikuk urusan perkuliahaan, selepas maghrib aku baru sampai di rumah. Aku tidak menemukan ibu ku di rumah, ternyata beliau mengikuti pengajian rutin setiap jumat malam. Karena perut terasa sangat keroncongan, sedari siang belum terisi, begitu sampai rumah yang ku tuju adalah meja makan. Ada tudung saji diatasnya, berharap menemukan makan malam di dalamnya, tetapi memang nasib, hanya ada beberapa iris tempe (beginilah nasib orang yang sering pulang tanpa konfirmasi ke orang rumah, jadi semua makanan mereka habiskan tanpa menyisakannya untuk ku). Mencari makanan instan di lemari dapur pun, aku tidak menemukan apapun. Ya sudah, berharap sepulang pengajian ibu membawa snack, itu pun jika beruntung, karena biasanya yang begitu dimonopoli oleh adik-adikku. Akhirnya pulang juga ibuku, suaranya yang sedang mengobrol sambil berjalan dengan tetangga dapat ku kenali dari dalam rumah, karena memang menginjak pukul 9 malam di komplek rumahku telah hening, membuat orang malas begadang, terlebih begadang untuk mengerjakan tugas ^_^ V.

Beruntunglah adikku yang paling kecil sudah tidur, itu artinya sainganku berkurang satu, hehe…. Ibuku membuka pintu, haah… ahirnya aku menemukan jodohku disaat lapar, ya tentu saja makanan. Dua buah nasi bungkus disodorkan ibuku, haah, begitu adil, aku berbagi dengan adikku laki-laki satu-satunya, tanpa banyak bicara – sebenarnya sedikit heran, nasi bungkus tidak biasanya disajikan malam-malam, tapi aku tak peduli banyak, yang jelas aku lapar dan harus segera memakan memakan nasi bungkus yang dibawakan ibuku itu. Kemudian setelah beberapa suapan, aku merasakan kejanggalan (He… berlebihan), lauknya yang sederhana itu terasa sangat pedas, padahal aku termasuk penggemar pedas, tapi karena tidak ingin mengambil resiko maag kambuh, ahirnya aku tidak memakan lauk si biang pedas itu, ahirnya habis juga ponggol itu, menyisakan si biang pedas. Tepat ketika aku kenyang setelah menghabiskan nasi bungkus itu, bapakku melintas di ruang makan, dan dengan kekonyolannya yang terkadang senang sekali melihat anaknya terkaget-kaget, berteriak dengan keras “setaan, ponggol setaaan…!!!”. Aku terkaget-kaget, ku pikir betul ada setan yang menampakkan diri, Lhah kayong ngageti nemen sih pak…” timpal ku dengan sedikit kebingungan.

Itu adalah kali pertama aku mencicipi satu makanan khas Tegal, yang memang namanya yang pemberian Ortega (orang Tegal asli), agak nyleneh, tetapi tentu saja bukan tanpa arti. Ponggol Setan, ya itu memang namanya, makanan yang populer di Tegal beberapa tahun belakangan ini. Ketika itu aku tidak paham apa itu ponggol setan, tapi sebenarnya aku paham hanya jika menelaah namanya.

Makanan khas Tegal itu sangat banyak macamnya. Dari mulai sekedar jajanan, hingga makaan berat yang rasanya tentu saja sangat eksotis. Ponggol setan lah salah satunya, dari namanya saja pasti sudah membuat orang bertanya-tanya, apa itu ponggol? Kenapa pula harus di embel-embeli dengan setan? Ponggol di kalangan masyarakat Tegal berarti nasi bungkus. Ponggol setan itu mungkin jika bisa di bandingkan, bentuknya hampir mirip dengan nasi kucingnya orang Jogja. Ya, sebenarnya hanya nasi bungkus biasa, isinya ya nasi (tapi nggak sesedikit nasi kucing), sambel goreng tempe (tempe yang dirumis dengan bumbu merah, di Tegal umum disebut dengan aduk-aduk tempe), mie goreng khas masakan orang kampung, dan terkadang ada ikan asinnya. Sederhana bukan? Tapi memakan ponggol setan itu, bagi Aku sendiri tidak menimbulkan kebosanan, justru terkadang menjadi addicting. Tetapi mungkin jika namanya tidak ponggol setan, rasanya mungkin tidak se eksotis ponggol setan, he….

Ponggol setan itu kebanyakan didapatkan jika malam hari, penjualnya ya pedagang kaki lima dan semacamnya, terkadang ada pula yang menjualnya di warung kecil semacam angkringan, di Tegal sendiri, yang semacam itu sangat banyak ditemukan di sepanjang jalan Ahmad Yani, di pusat kota. Yang menarik adalah, rasanya yang tadi ku bilang eksotis, khusus untuk ponggol setan ini, rasanya super pedas, hingga yang mengkonsumsinya dianggap bisa kesetanan, nah itu dia mengapa disebut sebagai ponggol “setan”. Menarik bukan?

Nah ini dia bentuk luaran ponggol setan itu, dipincuk dengan kertas bekas yang dialasi daun pisang, hanya sekilas saja ya. Gambar ini Aku ambil dari buku yang berjudul Ponggol Setan karangan Pak Rahardjo, beliau adalah seorang pegawai di Pemerintahan Kota Tegal. Beliau adalah seorang kelahiran Yogyakarta, dan juga besar di Yogjakarta dan Surakarta, kemudian beliau pindah ke Tegal sekitar tahun 1998. Dari informasi tersebut, maka dapat dipastikan bahwa beliau menghabiskan waktu di hidupnya, kebanyakan bukan di kota Tegalkan tetapi, karena kecintaan dan eksistensinya di Tegal semenjak 11 taun yang lalu, beliau terispirasi untuk menulis, berkaitan dengan kebudayaan, kebiasaan dan segala macam yang terkait dengan kota Tegal. Kurang eksotis apa coba?! Hingga menginspirasi seseorang untuk membukukannya. Sedikit bercerita, buku ini berisi kumpulan artikel penulis yang dikumpulkan kemudian dibukukan dengan judul Ponggol Setan (Saya Bukan Budayawan), bukan buku resep masakan tentunya. Buku ini bernuansa budaya tentunya, meskipun penulis tak mau disebut budayawan, selain itu nuansa yang sangat kental adalah nuansa religi dan juga sedikit nuansa politik. Sangat menarik, bagi teman-teman yang menyenangi buku-buku bernuansa budaya, bahasanya pun sederhana. Wah pokoknya bagus, top deh pak!!!
Bagi yang pengen baca, boleh kok pinjam, hehe... selama memungkinkan ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar