Pengalaman dengan makanan khas Tegal memang banyak, ya pastinya karena ibuku pintar memasak dan tidak senang jika keluarganya diasupi makanan yang tidak jelas juntrungannya. Menariknya, sesi makan jika aku berada di rumah itu bukan tiga kali sehari, tetapi empat kali sehari (bandingkan betapa berbeda dengan sesi makan anak kosan, seringnya hanya dua kali sehari, bahkan ada juga yang hanya sekali sehari, he…). Tambahan sesi makan itu, sebenarnya bukan makan besar, tetapi menikmati teh di sore hari. Kebiasaan medang ini, aku juga tak tahu persis kapan dimulainya, tetapi sepertinya ini terjadi di banyak keluarga di Tegal. Karena memang teh juga menjadi salah satu icon kota Tegal, khususnya teh poci wasgitel-nya (wangi, sepet (rasa khas teh yang sedikit pahit), legi (manis) dan kentel (kental)). Jadi kebiasaan moci ini tidak asing di kalangan masyarakat Tegal. Teh yang diseduh pun bukan teh biasa, melainkan teh yang diproduksi oleh salah satu pabrik teh di Tegal, yang cukup terkenal dan merupakan salah satu industry andalan Tegal, Dua Tang. Rasanya pun berbeda dengan teh lainnya, bagaimana menggambarkannya ya? Aku sedikit bingung. Ya kalau ada kesempatan ke Tegal atau melintasi Tegal di jalur pantura, cicipi saja teh pocinya, dijamin ketagihan, he….
Ini dia poci tanah liat yang biasa digunakan Ortega untuk moci. Poci semacam ini banyak dijual di sekitaran jalur pantura arah Brebes-Jakarta sebelun terminal Tegal. Menurut yang sangat gandrung dengan teh poci tanah liat yang asli (karena kebiasaan saya sendiri di rumah tidak menggunakan poci tanah liat untuk moci), ada trik tertentu menggunakan poci tanah liat ini, agar rasa tehnya menjadi lebih khas dan lebih nikmat, lebih lanjut, lihat artikel melalui link ini www.tegalmetropolis.multiply.com
Ngapak Jawir
Ritual moci di sore hari ini rasanya tidak lengkap jika tidak dilengkapi dengan menyantap makanan khas lainnya, yaitu tahu aci dan tahu plethok. Memang agak aneh ya namanya, tapi tentu saja cita rasanya tidak aneh dan memang ada arti di balik nama itu, melambangkan kreativitas warga Tegal (He… lagi-lagi berlebihan). Tahu aci terbuat dari tahu kuning yang dibelah dua pada bagian diagonalnya, dan pada bagian diagonal tersebut “ditempeli” aci (sebutan Ortega untuk tepung kanji yang dibumbui hingga rasanya menjadi asin dan gurih), pembuatannya sendiri cukup mudah, tetapi memang butuh trik, agar matang secara menyeluruh, jika tidak, bagian luar terlihat matang, tetapi aci di bagian dalam belum matang (pengalaman sendiri, sering gagal mencoba membuat tahu aci, menyerah dan ahirnya berlangganan dengan si bakul tahu aci di Jalan Cempaka dekat rumah ^_^ V).
Nah ini dia penampakan tahu aci itu, menggiurkan bukan? Di daerah Tembalang tempatku bernaung di Semarang sendiri telah banyak yang menjual tahu aci, tapi mungkin bentuknya berbeda dengan yang satu ini, tapi yang satu ini yang asli Tegal. Jadi sangat disayangkan ya, bagi teman2 yang belum sempat mencicipi tahu aci yang asli Tegal, karena memang sulit dan aku sendiri bingung bagaimana membawanya ke Semarang tanpa harus tahu itu menjadi dingin dan tidak lagi nikmat ketika dimakan (he, yang ini ngeles berlebihan…), tapi memang benar, kenikmatan tahu aci akan berkurang jika sudah dingin, meskipun dipanaskan kembali, rasanya tidak senikmat ketika fresh from the oven. Jadi, aku sarankan, bagi yang ingin mencicipinya dengan full kenikmatan, silakan bertandang ke Tegal-ku tercinta… he ^_^ V.
Selain tahu aci, yang juga terkenal adalah kawannya si tahu pletok, bahan untuk membuatnya sama, tetapi bentuknya yang berbeda, tahu pletok berbentuk lebih lebar dan aci gurihnya itu lebih banyak, biasanya jika di bakul2, harganya lebih mahal dari tahu aci, karena memang bentuknya yang lebih besar dan bagiku aci yang lebih banyak itu lebih mantap. Makanan yang mantap rasanya ini, dinamakan demikian karena ketika menggoreng, muncul bebunyian “pletok, pletok, pletok”.
Sedikit promosi, sedikit memberi referensi, tempat menjual tahu aci dan pletok, serta beberapa oleh2 khas Tegal lainnya, yang cukup terkenal di Tegal adalah juga di kawasan Jalan Ahmad Yani, yaitu Toko dengan judul “Tahu Murni Putra” tepatnya di seberang toko buku Makmur. Tapi tidak sedikit juga bakul kaki lima penjual tahu aci dan tahu pletok yang juga tidak diragukan kualitasnya, salah satunya ya langgananku di Jalan Cempaka tadi, he3…
Berbagai macam yang khas Tegal, bagiku memang memakan ruang inspirasi tersendiri, selain blog ini, beberapa inspirasi tentang Tegal membantu kelancaran kuliahku (He3,,, lagi2 berlebihan). Selain pembuatan blog ini, Ngapak Jawir adalah salah satu hasil inspirasiku, ketika ide pencarian ide untuk proposal bisnis psikologi kewirausahaan telah mentok, selalu ada jalan ketika berpikir kembali ke Kampungku Tegal Tercinta. Mulanya berpikir untuk membuat kedai masakan tradisional, tepatnya tampe mendoan (memang yang satu ini tidak asli Tegal), tetapi pada pengembangan ide berikutnya, aku mengusulkan tahu pletok ini untuk jadi salah satu menu andalan dalam proposal usaha kedai tradisional tersebut. Karena anggota kelompok kami berasal dari dua kubu berbeda, yaitu ngapak (logat khas masyarakat purwokerto, purbalingga dan sekitarnya), belong to me, dan temanku si anak purbalingga ^_^ V dan Jawa (Temanku itu dari Solo dan Klaten ^_^ V), biar nyentrik, namanya dibuat nyentrik, kemudian jadilah Ngapak Jawir, masakan tradisional yang disediakan juga khas dari daerah Ngapak dan Jawir.
Sedikit konfirmasi tantang sebutan ngapak, sebenarnya lebih cocok disandangkan pada orang Banyumas, Purwokerto dan sekitarnya. Ortega jarang, bahkan nyaris tidak pernah menyebut dirinya ngapak, aku sendiri baru kenal istilah ngapak ketika awal kuliah, disapa oleh ibu kos ku yang orang Magelang dengan beryanya “Dari Tegal ya? Berarti Ngapak-ngapak dong?”. Dalam hati bertanya, “ngapak-ngapak? Sih apa kuwe?”. Pembahasan Ngapak dan Logat Tegalan akan berlanjut di sesi berikutnya, he….
Oiya, jika ingin tahu lebih lanjut tentang makanan khas Tegal yang banyak macamnya, silahkan buka http://harry.sufehmi.com/archives/2008-09-17-1740/ dan masih banyak situs lainnya, silakan tanya sama mbah Google.
Ini dia poci tanah liat yang biasa digunakan Ortega untuk moci. Poci semacam ini banyak dijual di sekitaran jalur pantura arah Brebes-Jakarta sebelun terminal Tegal. Menurut yang sangat gandrung dengan teh poci tanah liat yang asli (karena kebiasaan saya sendiri di rumah tidak menggunakan poci tanah liat untuk moci), ada trik tertentu menggunakan poci tanah liat ini, agar rasa tehnya menjadi lebih khas dan lebih nikmat, lebih lanjut, lihat artikel melalui link ini www.tegalmetropolis.multiply.comNgapak Jawir
Ritual moci di sore hari ini rasanya tidak lengkap jika tidak dilengkapi dengan menyantap makanan khas lainnya, yaitu tahu aci dan tahu plethok. Memang agak aneh ya namanya, tapi tentu saja cita rasanya tidak aneh dan memang ada arti di balik nama itu, melambangkan kreativitas warga Tegal (He… lagi-lagi berlebihan). Tahu aci terbuat dari tahu kuning yang dibelah dua pada bagian diagonalnya, dan pada bagian diagonal tersebut “ditempeli” aci (sebutan Ortega untuk tepung kanji yang dibumbui hingga rasanya menjadi asin dan gurih), pembuatannya sendiri cukup mudah, tetapi memang butuh trik, agar matang secara menyeluruh, jika tidak, bagian luar terlihat matang, tetapi aci di bagian dalam belum matang (pengalaman sendiri, sering gagal mencoba membuat tahu aci, menyerah dan ahirnya berlangganan dengan si bakul tahu aci di Jalan Cempaka dekat rumah ^_^ V).
Nah ini dia penampakan tahu aci itu, menggiurkan bukan? Di daerah Tembalang tempatku bernaung di Semarang sendiri telah banyak yang menjual tahu aci, tapi mungkin bentuknya berbeda dengan yang satu ini, tapi yang satu ini yang asli Tegal. Jadi sangat disayangkan ya, bagi teman2 yang belum sempat mencicipi tahu aci yang asli Tegal, karena memang sulit dan aku sendiri bingung bagaimana membawanya ke Semarang tanpa harus tahu itu menjadi dingin dan tidak lagi nikmat ketika dimakan (he, yang ini ngeles berlebihan…), tapi memang benar, kenikmatan tahu aci akan berkurang jika sudah dingin, meskipun dipanaskan kembali, rasanya tidak senikmat ketika fresh from the oven. Jadi, aku sarankan, bagi yang ingin mencicipinya dengan full kenikmatan, silakan bertandang ke Tegal-ku tercinta… he ^_^ V.Sedikit promosi, sedikit memberi referensi, tempat menjual tahu aci dan pletok, serta beberapa oleh2 khas Tegal lainnya, yang cukup terkenal di Tegal adalah juga di kawasan Jalan Ahmad Yani, yaitu Toko dengan judul “Tahu Murni Putra” tepatnya di seberang toko buku Makmur. Tapi tidak sedikit juga bakul kaki lima penjual tahu aci dan tahu pletok yang juga tidak diragukan kualitasnya, salah satunya ya langgananku di Jalan Cempaka tadi, he3…
Berbagai macam yang khas Tegal, bagiku memang memakan ruang inspirasi tersendiri, selain blog ini, beberapa inspirasi tentang Tegal membantu kelancaran kuliahku (He3,,, lagi2 berlebihan). Selain pembuatan blog ini, Ngapak Jawir adalah salah satu hasil inspirasiku, ketika ide pencarian ide untuk proposal bisnis psikologi kewirausahaan telah mentok, selalu ada jalan ketika berpikir kembali ke Kampungku Tegal Tercinta. Mulanya berpikir untuk membuat kedai masakan tradisional, tepatnya tampe mendoan (memang yang satu ini tidak asli Tegal), tetapi pada pengembangan ide berikutnya, aku mengusulkan tahu pletok ini untuk jadi salah satu menu andalan dalam proposal usaha kedai tradisional tersebut. Karena anggota kelompok kami berasal dari dua kubu berbeda, yaitu ngapak (logat khas masyarakat purwokerto, purbalingga dan sekitarnya), belong to me, dan temanku si anak purbalingga ^_^ V dan Jawa (Temanku itu dari Solo dan Klaten ^_^ V), biar nyentrik, namanya dibuat nyentrik, kemudian jadilah Ngapak Jawir, masakan tradisional yang disediakan juga khas dari daerah Ngapak dan Jawir.
Sedikit konfirmasi tantang sebutan ngapak, sebenarnya lebih cocok disandangkan pada orang Banyumas, Purwokerto dan sekitarnya. Ortega jarang, bahkan nyaris tidak pernah menyebut dirinya ngapak, aku sendiri baru kenal istilah ngapak ketika awal kuliah, disapa oleh ibu kos ku yang orang Magelang dengan beryanya “Dari Tegal ya? Berarti Ngapak-ngapak dong?”. Dalam hati bertanya, “ngapak-ngapak? Sih apa kuwe?”. Pembahasan Ngapak dan Logat Tegalan akan berlanjut di sesi berikutnya, he….
Oiya, jika ingin tahu lebih lanjut tentang makanan khas Tegal yang banyak macamnya, silahkan buka http://harry.sufehmi.com/archives/2008-09-17-1740/ dan masih banyak situs lainnya, silakan tanya sama mbah Google.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar