Ingat iklan di televisi yang terkenal beberapa saat yang lalu? Seorang lelaki memfotokopi beberapa lembar draft, kemudian seorang perempuan yang menjaga fotokopian bertanya, “aslinya mana mas?”. Kemudian sang lelaki menjawab dengan logatnya yang sangat kental dan raut muka yang sedikit aneh, “Tegal…?!”. Padahal yang dimaksud si mbak penjaga fotokopian adalah aslinya draft yang akan difotocopy. Pertama kali melihat iklan itu, kontan aku tertawa termehek-mehek, oh, salah ya, terbahak-bahak maksudnya, he…. Ada lagi yang lain, ingat lagunya Saykoji, yang sudah agak lama, judulnya Jomblo, di lagu itu juga ada lirik yang menyangkut-nyangkutkan kata-kata Tegal dengan logatnya yang khas, kalau lupa lagunya silakan didengarkan kembali dan cari sendiri mp3 nya ya, he3…
Terkait dengan iklan nyleneh tersebut, aku punya cerita tersendiri. Ternyata kejadian yang seperti itu ada juga di dunia nyata, tapi bukan aku yang mengalaminya. Temanku pernah mengalaminya, dan pengalaman itu terjadi ketika iklan itu sedang marak, pasti terlihat kehebohannya. Kejadian itu terjadi ketika ia mendaftar ulang sebagai mahasiswa di universitas di Semarang, yang mengharuskan menyertakan fotokopi KTP atau semacamnya, ketika ditanya petugas daftar ulang itu “aslinya mana?”, temanku dengan kepolosan dan keluguannya menjawab “Tegal”. Kontan si petugas itu tersenyum dan sedikit menahan tawa, begitu juga calon mahasiswa lain yang mengantri di belakang temanku, menahan tawa. Tetapi tidak dengan ku, ketika aku diceritakan kejadian itu, jelas aku tidak menahan tawa, tapi tertawa terbahak-bahak. Respon yang aku berikan yaitu sebuah pertanyaan“po kamu ga pernah liat iklan di tivi itu nok?”.
Logat Tegal memang sangat khas, yang terkadang orang bilang, sebaiknya Orang Tegal tidak usah berbicara, karena jika ia berbicara maka membuyarkan konsentrasi yang mendengarnya, karena “keanehan” logatnya itu. Bagi orang diluar komunitas ini, logat Tegal terkadang disamakan dengan logat orang purwokerto, banyumas, purbalingga dan cilacap, dengan ngapaknya yang khas. Tetapi bagi orang Tegal maupun Purwokerto cs, sama-sama tidak mau disamakan, karena menang logatnya jelas-jelas berbeda. Bahkan tidak hanya logatnya, beberapa kosakata juga berbeda. Mengenai bahasa dan logat Tegal ini ku akui saja sebenarnya kurang refrensi, jadi mungkin tak akan panjang lebar. Namun, keseriusan karena keseriusan Pemerintah Kota Tegal dengan bahasa dan logat Tegal ini, beberapa kali telah dilaksanakan Kongres Bahasa Tegal, yang mungkin secara lebih lengkap bisa dibaca di link ini http://ccvcku.wordpress.com/2008/11/23/jejak-langkah-sebuah-catatan-kilas-balik/. Selain itu beberapa pemerhati budaya di Kota Tegal juga sempat menerbitkan Kamus Bahasa Tegal, yang di dalamnya berisi ratusan bahkan ribuan kosakata dan logat/ekspresi kata khas Tegal. yang berminat belajar bahasa Tegal, silakan pinjam kamus ini, hubungi saya selama memungkinkan... ^^
Ortega (orang tegal asli) memang sangat khas, didengar dari suaranya, orang yang se daerah pasti dapat mengenalinya, terkecuali beberapa orang yang mungkin samar sekali logatnya, salah satu dari golongan itu adalah aku. Ketika ditanya “asalnya mana?”, Aku menjawab “dari Tegal”, lalu kalimat yang selanjutnya sudah dapat ku tebak “ko nggak ngapak-ngapak?”. Entah apa yang menyebabkannya, tapi teman2ku memang mengakui logat Tegalku samar tidak nampak, mungkin karena aku lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, bukan menyangkal dari kodratku sebagai orang Tegal, tapi memang dari kecil dibiasakan berbahasa Indonesia, tapi juga jika dipikir-pikir, lingkungan pertemanan sesama orang Tegal membuatku menjadi lebih sering memunculkan logat Tegal, tetapi lagi tetap saja tak nampak logat Tegalku.
Adalah seorang pelayan di Warung Tegal (Warteg) di Tembalang yang juga Tercinta ^_^, menebakku sebagai orang Tegal, hanya dengan menatap wajahku, bahkan sebelum aku berbicara satu kata pun. Ajaib!!! Aku baru menemukan yang demikian, mbae’ penjaga pelayan warteg itu ternyata asli Brebes, tetangga dekat Tegal. Ketika aku bertanya, “kok mba bisa tahu, kan aku belum pesen apa2, belum ngomong apa2, tau dari mana aku orang Tegal?”. Kemudian dengan logatnya yang sangat nampak dan dengan nada yang sedikit malu2, mbae’ menjawab “Dari mukanya udah keliatan mbakk…”. Aku sedikit terbingung-bingung, dan kembali bertanya, “ah, masa sih dari muka keliatan? Pasti mbak cuma asal tebak to?, Kalau logatku gimana mbak? Ngatoni wong Tegal ora?”. Dengan sedikit tersenyum tanda yakin dengan tebakannya, mbae’ menjawab “logatnya malah kaya orang Jakarta”.


Bagi pemerhati dan pecinta bahasa Tegal, Anda dapat membuka kamus yang lebih lengkap di http.//www.kamusbahasategal.blogspot.com
BalasHapus