Kamis, 09 Juli 2009

Numpak Sepur Maring Semarang

Ini cerita terbaru tentang diriku yang kuusung dari Tegal. Kejadiannya di gambar yang ada diatas ini, di stasiun Tegal. Kali ini mungkin aku bukan membanggakan diri ya, karena yang ini tak patut untuk dibanggakan. Bagi teman-teman yang pernah mendengar kata-kata Kalingung, mungkin tahu persis apa yang tak patut dibanggakan itu. Ya, kuceritakan saja, tepatnya kemarin siang (08/07), aku hendak kem bali ke Semarang sehabis nyontreng di kampong halaman. Rencananya sih berangkat siang hari, tapi hal yang tak patut dibanggakan itu terjadi, keretanya mengalami kerusakan dan penumpang yang sekian banyak itu terpaksa harus menunggu, termasuk aku. Aku sendiri awalnya tak terlalu khawatir dengan keterlambatan itu, karena ku pikir hanya telat setengah jam atau paling pol 1 jam, ternyata setelah hampir kesabaran habis, menunggu dari jam setengah dua siang, kereta tak kunjung berangkat jam lima sore. Hem, hem, aku tak tahu persis apa yang terjadi di badan kereta yang telah tampak tua dan kelelahan itu. Ketakutanku berahir juga, jam enam sore kereta diberangkatkan. Bukan apa-apa, masalahnya stasiun poncol itu jaraknya cukup jauh dari tempat kosku, dan aku khawatir jika sampai semarang tengah malam, lalu bagaimana aku pulang ke kos? Pikiranku sudah melayang kemana-mana, berfikir kemungkinan terburuk, mungkin saja sampai semarang pukul 11 atau 12 malam, parahnya, keesokan harinya ada jadwal Ujian Semester.

Ah, tapi memang ajaib itu kereta, di saat2 genting begitu, lajunya begitu cepat terhitung hanya 2 setengah jam perjalanan tegal-semarang, yang biasanya mencapai 3 setengah jam. Itulah yang membuatku tak pernah kapok bolak balik tegal-semarang dengan Kaligung, meski terkadang mengecewakan, tetapi bagiku sendiri ini angkutan yang paling terjangkau selama yang pernah ku tumpangi. Kelas bisnisnya hanya 25 ribu saja, sedangkan kelas ekonomi favoritku, harganya sangat murah tentunya bagi kantong mahasiswa, hanya 15 ribu saja. Yang menguntungkan lagi, disaat tarif kereta lain melonjak drastis di Hari Raya, Kaligunglah penyelamat satu-satunya, angkutan yang sepanjang aku kuliah, tak pernah naik tarifnya. Wah, menyenangkan sekali... Ya, ahirnya selamat aku sampai kamar kos yang terasa begitu kurindukan, sampai di Tembalang pukul 9 malam. Selain sholat, tak ada tujuan lain selain kasur, merebahkan badan, dan terlelap.

Hehe... sebenarnya agak ragu juga mau nulis ini. Postingan ini semoga bisa menjadi koreksi bagi pihak-pihak tertentu. Ya, aku sih sudah menyaring sedemikian mungkin tulisanku ini, semoga ini ga sekedar uneg-uneg dan berujung seperti kasus yang kemarin2 marak. Aku hanya menuliskan yang sebenarnya terjadi saja. Mungkin permohonan maaf patut juga dilayangkan jika beberapa pihak merasa tersinggung dengan tulisan saya ini. Ngapurane ya pak...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar