Kamis, 09 Juli 2009

Wonderfull Balo-Balo

Salah satu kesenian khas dan asli Tegal adalah Balo-Balo. Balo-Balo ini sudah popular sejak jaman penjajahan. Kata Bapakku, dulu kesenian ini digunakan sebagai trik melawan musuh, artinya ya tidak secara langsung musik dimainkan, kemudian musik itu punya kekuatan mistik untuk memusnahkan musuh, tidak demikian tentunya. Jadi para pejuang jaman dulu menggunakan kesenian yang ini sebagai alat untuk menyamar, mereka memainkan musik ini di depan rumah atau teras yang disebut orang tegal sebagai bale (bale-bale). Padahal di dalam rumah pejuang yang lain menyusun strategi untuk melawan, dengan adanya adanya beberapa pejuang yang memainkan musik di teras itu, sehingga penjajah terkecoh, menganggap bahwa di rumah tersebut hanya sedang bersantai dan bersenda gurau. Musiknya dulu juga sangat kental dengan nuansa perjuangan, dapat di dengarkan dari syair2nya, kini kesenian yang kian langka keberadaannya ini lebih sering mengusung tema-tema keseharian dalam kehidupan masyarakat.

Menelusuri jejak kesenian ini di Kota Tegal cukup sulit, karena memang sangat sedikit yang mengambangkannya. Saya mendapatkan satu sumber yang cukup menarik tentang kesenian ini, berikut saya tampilkan video liputan yang dikutip dari tayangan Horizon di Indosiar. Tayangan ini berisi tentang perjuangan seniman Tegal juga para budayawannya dalam melestarikan bahasa Tegal, salah satunya adalah melalui kesenian Balo-balo ini. Ya, kalau begitu, selamat menikmati tayangannya.


Numpak Sepur Maring Semarang

Ini cerita terbaru tentang diriku yang kuusung dari Tegal. Kejadiannya di gambar yang ada diatas ini, di stasiun Tegal. Kali ini mungkin aku bukan membanggakan diri ya, karena yang ini tak patut untuk dibanggakan. Bagi teman-teman yang pernah mendengar kata-kata Kalingung, mungkin tahu persis apa yang tak patut dibanggakan itu. Ya, kuceritakan saja, tepatnya kemarin siang (08/07), aku hendak kem bali ke Semarang sehabis nyontreng di kampong halaman. Rencananya sih berangkat siang hari, tapi hal yang tak patut dibanggakan itu terjadi, keretanya mengalami kerusakan dan penumpang yang sekian banyak itu terpaksa harus menunggu, termasuk aku. Aku sendiri awalnya tak terlalu khawatir dengan keterlambatan itu, karena ku pikir hanya telat setengah jam atau paling pol 1 jam, ternyata setelah hampir kesabaran habis, menunggu dari jam setengah dua siang, kereta tak kunjung berangkat jam lima sore. Hem, hem, aku tak tahu persis apa yang terjadi di badan kereta yang telah tampak tua dan kelelahan itu. Ketakutanku berahir juga, jam enam sore kereta diberangkatkan. Bukan apa-apa, masalahnya stasiun poncol itu jaraknya cukup jauh dari tempat kosku, dan aku khawatir jika sampai semarang tengah malam, lalu bagaimana aku pulang ke kos? Pikiranku sudah melayang kemana-mana, berfikir kemungkinan terburuk, mungkin saja sampai semarang pukul 11 atau 12 malam, parahnya, keesokan harinya ada jadwal Ujian Semester.

Ah, tapi memang ajaib itu kereta, di saat2 genting begitu, lajunya begitu cepat terhitung hanya 2 setengah jam perjalanan tegal-semarang, yang biasanya mencapai 3 setengah jam. Itulah yang membuatku tak pernah kapok bolak balik tegal-semarang dengan Kaligung, meski terkadang mengecewakan, tetapi bagiku sendiri ini angkutan yang paling terjangkau selama yang pernah ku tumpangi. Kelas bisnisnya hanya 25 ribu saja, sedangkan kelas ekonomi favoritku, harganya sangat murah tentunya bagi kantong mahasiswa, hanya 15 ribu saja. Yang menguntungkan lagi, disaat tarif kereta lain melonjak drastis di Hari Raya, Kaligunglah penyelamat satu-satunya, angkutan yang sepanjang aku kuliah, tak pernah naik tarifnya. Wah, menyenangkan sekali... Ya, ahirnya selamat aku sampai kamar kos yang terasa begitu kurindukan, sampai di Tembalang pukul 9 malam. Selain sholat, tak ada tujuan lain selain kasur, merebahkan badan, dan terlelap.

Hehe... sebenarnya agak ragu juga mau nulis ini. Postingan ini semoga bisa menjadi koreksi bagi pihak-pihak tertentu. Ya, aku sih sudah menyaring sedemikian mungkin tulisanku ini, semoga ini ga sekedar uneg-uneg dan berujung seperti kasus yang kemarin2 marak. Aku hanya menuliskan yang sebenarnya terjadi saja. Mungkin permohonan maaf patut juga dilayangkan jika beberapa pihak merasa tersinggung dengan tulisan saya ini. Ngapurane ya pak...

Logat Tegal Vs Raut Tegal

Ingat iklan di televisi yang terkenal beberapa saat yang lalu? Seorang lelaki memfotokopi beberapa lembar draft, kemudian seorang perempuan yang menjaga fotokopian bertanya, “aslinya mana mas?”. Kemudian sang lelaki menjawab dengan logatnya yang sangat kental dan raut muka yang sedikit aneh, “Tegal…?!”. Padahal yang dimaksud si mbak penjaga fotokopian adalah aslinya draft yang akan difotocopy. Pertama kali melihat iklan itu, kontan aku tertawa termehek-mehek, oh, salah ya, terbahak-bahak maksudnya, he…. Ada lagi yang lain, ingat lagunya Saykoji, yang sudah agak lama, judulnya Jomblo, di lagu itu juga ada lirik yang menyangkut-nyangkutkan kata-kata Tegal dengan logatnya yang khas, kalau lupa lagunya silakan didengarkan kembali dan cari sendiri mp3 nya ya, he3…

Terkait dengan iklan nyleneh tersebut, aku punya cerita tersendiri. Ternyata kejadian yang seperti itu ada juga di dunia nyata, tapi bukan aku yang mengalaminya. Temanku pernah mengalaminya, dan pengalaman itu terjadi ketika iklan itu sedang marak, pasti terlihat kehebohannya. Kejadian itu terjadi ketika ia mendaftar ulang sebagai mahasiswa di universitas di Semarang, yang mengharuskan menyertakan fotokopi KTP atau semacamnya, ketika ditanya petugas daftar ulang itu “aslinya mana?”, temanku dengan kepolosan dan keluguannya menjawab “Tegal”. Kontan si petugas itu tersenyum dan sedikit menahan tawa, begitu juga calon mahasiswa lain yang mengantri di belakang temanku, menahan tawa. Tetapi tidak dengan ku, ketika aku diceritakan kejadian itu, jelas aku tidak menahan tawa, tapi tertawa terbahak-bahak. Respon yang aku berikan yaitu sebuah pertanyaan“po kamu ga pernah liat iklan di tivi itu nok?”.

Logat Tegal memang sangat khas, yang terkadang orang bilang, sebaiknya Orang Tegal tidak usah berbicara, karena jika ia berbicara maka membuyarkan konsentrasi yang mendengarnya, karena “keanehan” logatnya itu. Bagi orang diluar komunitas ini, logat Tegal terkadang disamakan dengan logat orang purwokerto, banyumas, purbalingga dan cilacap, dengan ngapaknya yang khas. Tetapi bagi orang Tegal maupun Purwokerto cs, sama-sama tidak mau disamakan, karena menang logatnya jelas-jelas berbeda. Bahkan tidak hanya logatnya, beberapa kosakata juga berbeda. Mengenai bahasa dan logat Tegal ini ku akui saja sebenarnya kurang refrensi, jadi mungkin tak akan panjang lebar. Namun, keseriusan karena keseriusan Pemerintah Kota Tegal dengan bahasa dan logat Tegal ini, beberapa kali telah dilaksanakan Kongres Bahasa Tegal, yang mungkin secara lebih lengkap bisa dibaca di link ini http://ccvcku.wordpress.com/2008/11/23/jejak-langkah-sebuah-catatan-kilas-balik/. Selain itu beberapa pemerhati budaya di Kota Tegal juga sempat menerbitkan Kamus Bahasa Tegal, yang di dalamnya berisi ratusan bahkan ribuan kosakata dan logat/ekspresi kata khas Tegal. yang berminat belajar bahasa Tegal, silakan pinjam kamus ini, hubungi saya selama memungkinkan... ^^

Ortega (orang tegal asli) memang sangat khas, didengar dari suaranya, orang yang se daerah pasti dapat mengenalinya, terkecuali beberapa orang yang mungkin samar sekali logatnya, salah satu dari golongan itu adalah aku. Ketika ditanya “asalnya mana?”, Aku menjawab “dari Tegal”, lalu kalimat yang selanjutnya sudah dapat ku tebak “ko nggak ngapak-ngapak?”. Entah apa yang menyebabkannya, tapi teman2ku memang mengakui logat Tegalku samar tidak nampak, mungkin karena aku lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, bukan menyangkal dari kodratku sebagai orang Tegal, tapi memang dari kecil dibiasakan berbahasa Indonesia, tapi juga jika dipikir-pikir, lingkungan pertemanan sesama orang Tegal membuatku menjadi lebih sering memunculkan logat Tegal, tetapi lagi tetap saja tak nampak logat Tegalku.

Adalah seorang pelayan di Warung Tegal (Warteg) di Tembalang yang juga Tercinta ^_^, menebakku sebagai orang Tegal, hanya dengan menatap wajahku, bahkan sebelum aku berbicara satu kata pun. Ajaib!!! Aku baru menemukan yang demikian, mbae’ penjaga pelayan warteg itu ternyata asli Brebes, tetangga dekat Tegal. Ketika aku bertanya, “kok mba bisa tahu, kan aku belum pesen apa2, belum ngomong apa2, tau dari mana aku orang Tegal?”. Kemudian dengan logatnya yang sangat nampak dan dengan nada yang sedikit malu2, mbae’ menjawab “Dari mukanya udah keliatan mbakk…”. Aku sedikit terbingung-bingung, dan kembali bertanya, “ah, masa sih dari muka keliatan? Pasti mbak cuma asal tebak to?, Kalau logatku gimana mbak? Ngatoni wong Tegal ora?”. Dengan sedikit tersenyum tanda yakin dengan tebakannya, mbae’ menjawab “logatnya malah kaya orang Jakarta”.

Waao… sebegitukah aku tak nampak orang Tegal dari logatku? Yang membuat super heran adalah, mengapa mbae’ itu bisa nebak dari mukaku, apa mukaku ini ngatoni orang Tegal? Memang mukanya orang Tegal itu macam apa? Secara teoretis, aku belum cukup paham dengan yang demikian, tetapi mungkin ada ciri2 tertentu ya, terutama jika sama-sama orang Tegal, mungkin lebih sensitif, haduh, tapi masih bingung juga, ada yang tahu dengan temuan ini? He3… tapi semenjak kejadian itu, aku sering melihat2 dengan seksama wajah2 orang Tegal, tapi memang benar, ada yang terlihat sama, tapi apanya ya? Ya mungkin sensitivitas itu saja yang bisa berjalan dalam kasus semacam ini (he… berlebihan lagi…)

Moci Yuh...

Pengalaman dengan makanan khas Tegal memang banyak, ya pastinya karena ibuku pintar memasak dan tidak senang jika keluarganya diasupi makanan yang tidak jelas juntrungannya. Menariknya, sesi makan jika aku berada di rumah itu bukan tiga kali sehari, tetapi empat kali sehari (bandingkan betapa berbeda dengan sesi makan anak kosan, seringnya hanya dua kali sehari, bahkan ada juga yang hanya sekali sehari, he…). Tambahan sesi makan itu, sebenarnya bukan makan besar, tetapi menikmati teh di sore hari. Kebiasaan medang ini, aku juga tak tahu persis kapan dimulainya, tetapi sepertinya ini terjadi di banyak keluarga di Tegal. Karena memang teh juga menjadi salah satu icon kota Tegal, khususnya teh poci wasgitel-nya (wangi, sepet (rasa khas teh yang sedikit pahit), legi (manis) dan kentel (kental)). Jadi kebiasaan moci ini tidak asing di kalangan masyarakat Tegal. Teh yang diseduh pun bukan teh biasa, melainkan teh yang diproduksi oleh salah satu pabrik teh di Tegal, yang cukup terkenal dan merupakan salah satu industry andalan Tegal, Dua Tang. Rasanya pun berbeda dengan teh lainnya, bagaimana menggambarkannya ya? Aku sedikit bingung. Ya kalau ada kesempatan ke Tegal atau melintasi Tegal di jalur pantura, cicipi saja teh pocinya, dijamin ketagihan, he….

Ini dia poci tanah liat yang biasa digunakan Ortega untuk moci. Poci semacam ini banyak dijual di sekitaran jalur pantura arah Brebes-Jakarta sebelun terminal Tegal. Menurut yang sangat gandrung dengan teh poci tanah liat yang asli (karena kebiasaan saya sendiri di rumah tidak menggunakan poci tanah liat untuk moci), ada trik tertentu menggunakan poci tanah liat ini, agar rasa tehnya menjadi lebih khas dan lebih nikmat, lebih lanjut, lihat artikel melalui link ini www.tegalmetropolis.multiply.com




Ngapak Jawir

Ritual moci di sore hari ini rasanya tidak lengkap jika tidak dilengkapi dengan menyantap makanan khas lainnya, yaitu tahu aci dan tahu plethok. Memang agak aneh ya namanya, tapi tentu saja cita rasanya tidak aneh dan memang ada arti di balik nama itu, melambangkan kreativitas warga Tegal (He… lagi-lagi berlebihan). Tahu aci terbuat dari tahu kuning yang dibelah dua pada bagian diagonalnya, dan pada bagian diagonal tersebut “ditempeli” aci (sebutan Ortega untuk tepung kanji yang dibumbui hingga rasanya menjadi asin dan gurih), pembuatannya sendiri cukup mudah, tetapi memang butuh trik, agar matang secara menyeluruh, jika tidak, bagian luar terlihat matang, tetapi aci di bagian dalam belum matang (pengalaman sendiri, sering gagal mencoba membuat tahu aci, menyerah dan ahirnya berlangganan dengan si bakul tahu aci di Jalan Cempaka dekat rumah ^_^ V).


Nah ini dia penampakan tahu aci itu, menggiurkan bukan? Di daerah Tembalang tempatku bernaung di Semarang sendiri telah banyak yang menjual tahu aci, tapi mungkin bentuknya berbeda dengan yang satu ini, tapi yang satu ini yang asli Tegal. Jadi sangat disayangkan ya, bagi teman2 yang belum sempat mencicipi tahu aci yang asli Tegal, karena memang sulit dan aku sendiri bingung bagaimana membawanya ke Semarang tanpa harus tahu itu menjadi dingin dan tidak lagi nikmat ketika dimakan (he, yang ini ngeles berlebihan…), tapi memang benar, kenikmatan tahu aci akan berkurang jika sudah dingin, meskipun dipanaskan kembali, rasanya tidak senikmat ketika fresh from the oven. Jadi, aku sarankan, bagi yang ingin mencicipinya dengan full kenikmatan, silakan bertandang ke Tegal-ku tercinta… he ^_^ V.

Selain tahu aci, yang juga terkenal adalah kawannya si tahu pletok, bahan untuk membuatnya sama, tetapi bentuknya yang berbeda, tahu pletok berbentuk lebih lebar dan aci gurihnya itu lebih banyak, biasanya jika di bakul2, harganya lebih mahal dari tahu aci, karena memang bentuknya yang lebih besar dan bagiku aci yang lebih banyak itu lebih mantap. Makanan yang mantap rasanya ini, dinamakan demikian karena ketika menggoreng, muncul bebunyian “pletok, pletok, pletok”.


Sedikit promosi, sedikit memberi referensi, tempat menjual tahu aci dan pletok, serta beberapa oleh2 khas Tegal lainnya, yang cukup terkenal di Tegal adalah juga di kawasan Jalan Ahmad Yani, yaitu Toko dengan judul “Tahu Murni Putra” tepatnya di seberang toko buku Makmur. Tapi tidak sedikit juga bakul kaki lima penjual tahu aci dan tahu pletok yang juga tidak diragukan kualitasnya, salah satunya ya langgananku di Jalan Cempaka tadi, he3…

Berbagai macam yang khas Tegal, bagiku memang memakan ruang inspirasi tersendiri, selain blog ini, beberapa inspirasi tentang Tegal membantu kelancaran kuliahku (He3,,, lagi2 berlebihan). Selain pembuatan blog ini, Ngapak Jawir adalah salah satu hasil inspirasiku, ketika ide pencarian ide untuk proposal bisnis psikologi kewirausahaan telah mentok, selalu ada jalan ketika berpikir kembali ke Kampungku Tegal Tercinta. Mulanya berpikir untuk membuat kedai masakan tradisional, tepatnya tampe mendoan (memang yang satu ini tidak asli Tegal), tetapi pada pengembangan ide berikutnya, aku mengusulkan tahu pletok ini untuk jadi salah satu menu andalan dalam proposal usaha kedai tradisional tersebut. Karena anggota kelompok kami berasal dari dua kubu berbeda, yaitu ngapak (logat khas masyarakat purwokerto, purbalingga dan sekitarnya), belong to me, dan temanku si anak purbalingga ^_^ V dan Jawa (Temanku itu dari Solo dan Klaten ^_^ V), biar nyentrik, namanya dibuat nyentrik, kemudian jadilah Ngapak Jawir, masakan tradisional yang disediakan juga khas dari daerah Ngapak dan Jawir.
Sedikit konfirmasi tantang sebutan ngapak, sebenarnya lebih cocok disandangkan pada orang Banyumas, Purwokerto dan sekitarnya. Ortega jarang, bahkan nyaris tidak pernah menyebut dirinya ngapak, aku sendiri baru kenal istilah ngapak ketika awal kuliah, disapa oleh ibu kos ku yang orang Magelang dengan beryanya “Dari Tegal ya? Berarti Ngapak-ngapak dong?”. Dalam hati bertanya, “ngapak-ngapak? Sih apa kuwe?”. Pembahasan Ngapak dan Logat Tegalan akan berlanjut di sesi berikutnya, he….

Oiya, jika ingin tahu lebih lanjut tentang makanan khas Tegal yang banyak macamnya, silahkan buka http://harry.sufehmi.com/archives/2008-09-17-1740/ dan masih banyak situs lainnya, silakan tanya sama mbah Google.

Rabu, 08 Juli 2009

Sepincuk Nasi Bungkus

Ketika itu akhir minggu, tepatnya hari jumat, aku berlibur ala anak kuliahan, bukan ke taman hiburan, pusat perbelanjaan terlebih kebun binatang. Liburan yang ini terasa sangat menyenangkan, yaitu PULANG KAMPUNG, obat mujarab penawar homesick yang sering menyerang dan melepas penat hiruk pikuk urusan perkuliahaan, selepas maghrib aku baru sampai di rumah. Aku tidak menemukan ibu ku di rumah, ternyata beliau mengikuti pengajian rutin setiap jumat malam. Karena perut terasa sangat keroncongan, sedari siang belum terisi, begitu sampai rumah yang ku tuju adalah meja makan. Ada tudung saji diatasnya, berharap menemukan makan malam di dalamnya, tetapi memang nasib, hanya ada beberapa iris tempe (beginilah nasib orang yang sering pulang tanpa konfirmasi ke orang rumah, jadi semua makanan mereka habiskan tanpa menyisakannya untuk ku). Mencari makanan instan di lemari dapur pun, aku tidak menemukan apapun. Ya sudah, berharap sepulang pengajian ibu membawa snack, itu pun jika beruntung, karena biasanya yang begitu dimonopoli oleh adik-adikku. Akhirnya pulang juga ibuku, suaranya yang sedang mengobrol sambil berjalan dengan tetangga dapat ku kenali dari dalam rumah, karena memang menginjak pukul 9 malam di komplek rumahku telah hening, membuat orang malas begadang, terlebih begadang untuk mengerjakan tugas ^_^ V.

Beruntunglah adikku yang paling kecil sudah tidur, itu artinya sainganku berkurang satu, hehe…. Ibuku membuka pintu, haah… ahirnya aku menemukan jodohku disaat lapar, ya tentu saja makanan. Dua buah nasi bungkus disodorkan ibuku, haah, begitu adil, aku berbagi dengan adikku laki-laki satu-satunya, tanpa banyak bicara – sebenarnya sedikit heran, nasi bungkus tidak biasanya disajikan malam-malam, tapi aku tak peduli banyak, yang jelas aku lapar dan harus segera memakan memakan nasi bungkus yang dibawakan ibuku itu. Kemudian setelah beberapa suapan, aku merasakan kejanggalan (He… berlebihan), lauknya yang sederhana itu terasa sangat pedas, padahal aku termasuk penggemar pedas, tapi karena tidak ingin mengambil resiko maag kambuh, ahirnya aku tidak memakan lauk si biang pedas itu, ahirnya habis juga ponggol itu, menyisakan si biang pedas. Tepat ketika aku kenyang setelah menghabiskan nasi bungkus itu, bapakku melintas di ruang makan, dan dengan kekonyolannya yang terkadang senang sekali melihat anaknya terkaget-kaget, berteriak dengan keras “setaan, ponggol setaaan…!!!”. Aku terkaget-kaget, ku pikir betul ada setan yang menampakkan diri, Lhah kayong ngageti nemen sih pak…” timpal ku dengan sedikit kebingungan.

Itu adalah kali pertama aku mencicipi satu makanan khas Tegal, yang memang namanya yang pemberian Ortega (orang Tegal asli), agak nyleneh, tetapi tentu saja bukan tanpa arti. Ponggol Setan, ya itu memang namanya, makanan yang populer di Tegal beberapa tahun belakangan ini. Ketika itu aku tidak paham apa itu ponggol setan, tapi sebenarnya aku paham hanya jika menelaah namanya.

Makanan khas Tegal itu sangat banyak macamnya. Dari mulai sekedar jajanan, hingga makaan berat yang rasanya tentu saja sangat eksotis. Ponggol setan lah salah satunya, dari namanya saja pasti sudah membuat orang bertanya-tanya, apa itu ponggol? Kenapa pula harus di embel-embeli dengan setan? Ponggol di kalangan masyarakat Tegal berarti nasi bungkus. Ponggol setan itu mungkin jika bisa di bandingkan, bentuknya hampir mirip dengan nasi kucingnya orang Jogja. Ya, sebenarnya hanya nasi bungkus biasa, isinya ya nasi (tapi nggak sesedikit nasi kucing), sambel goreng tempe (tempe yang dirumis dengan bumbu merah, di Tegal umum disebut dengan aduk-aduk tempe), mie goreng khas masakan orang kampung, dan terkadang ada ikan asinnya. Sederhana bukan? Tapi memakan ponggol setan itu, bagi Aku sendiri tidak menimbulkan kebosanan, justru terkadang menjadi addicting. Tetapi mungkin jika namanya tidak ponggol setan, rasanya mungkin tidak se eksotis ponggol setan, he….

Ponggol setan itu kebanyakan didapatkan jika malam hari, penjualnya ya pedagang kaki lima dan semacamnya, terkadang ada pula yang menjualnya di warung kecil semacam angkringan, di Tegal sendiri, yang semacam itu sangat banyak ditemukan di sepanjang jalan Ahmad Yani, di pusat kota. Yang menarik adalah, rasanya yang tadi ku bilang eksotis, khusus untuk ponggol setan ini, rasanya super pedas, hingga yang mengkonsumsinya dianggap bisa kesetanan, nah itu dia mengapa disebut sebagai ponggol “setan”. Menarik bukan?

Nah ini dia bentuk luaran ponggol setan itu, dipincuk dengan kertas bekas yang dialasi daun pisang, hanya sekilas saja ya. Gambar ini Aku ambil dari buku yang berjudul Ponggol Setan karangan Pak Rahardjo, beliau adalah seorang pegawai di Pemerintahan Kota Tegal. Beliau adalah seorang kelahiran Yogyakarta, dan juga besar di Yogjakarta dan Surakarta, kemudian beliau pindah ke Tegal sekitar tahun 1998. Dari informasi tersebut, maka dapat dipastikan bahwa beliau menghabiskan waktu di hidupnya, kebanyakan bukan di kota Tegalkan tetapi, karena kecintaan dan eksistensinya di Tegal semenjak 11 taun yang lalu, beliau terispirasi untuk menulis, berkaitan dengan kebudayaan, kebiasaan dan segala macam yang terkait dengan kota Tegal. Kurang eksotis apa coba?! Hingga menginspirasi seseorang untuk membukukannya. Sedikit bercerita, buku ini berisi kumpulan artikel penulis yang dikumpulkan kemudian dibukukan dengan judul Ponggol Setan (Saya Bukan Budayawan), bukan buku resep masakan tentunya. Buku ini bernuansa budaya tentunya, meskipun penulis tak mau disebut budayawan, selain itu nuansa yang sangat kental adalah nuansa religi dan juga sedikit nuansa politik. Sangat menarik, bagi teman-teman yang menyenangi buku-buku bernuansa budaya, bahasanya pun sederhana. Wah pokoknya bagus, top deh pak!!!
Bagi yang pengen baca, boleh kok pinjam, hehe... selama memungkinkan ya...